IARMI Ikuti Wawasan Kebangsaan VI & VII Di Gedung Srijaja

Surabaya , Wawasan Kebangsaan yang dibidani oleh Pangdam V Brawijaya dari jilid I hingga saat ini Jilid VII berlangsung meriah dan tanpa bosan - bosannya peserta yang mengikutinya.

Ruangan di  Gedung Srijaja, Victoria Ballroom lantai VI  dipadati oleh 500 peserta lebih dan mengikuti jalannya seminar dan dialog Pemantapan Wawasan Kebangsaan VI dan VII dengan mengambil tema "Meningkatkan Ketahanan Nasional Dalam Rangka Mayarakat Ekonomi Asean (MEA). 
Apalagi pada Jilid VI dan VII ini selain pesertanya tokoh masyarakat, juga Ratusan Resimen Mahasiswa (Menwa) dan Alumni Resimen Mahasiswa bersama beberapa tokoh nasional mengikuti Pemantapan Wawasan Kebangsaan VI dan VII di gedung Srijaya Jalan Mayjend Sungkono, Sabtu (21/2/2015).

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pakar D.P.N Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Dr. KPHA Tjandra Sridjaja Pradjonggo, SH, mengatakan bahwa lahirnya Wawasan kebangsaan ini dibidani oleh Pangdam V Brawijaya Saat itu, dan alhamdulillah hingga jilid VII ini masih terus berlanjut, untuk jilid VI dan VII ini diikuti oleh IARMI dari 29 Provinsi.

Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Laksamana TNI (purn) Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, dengan adanya komponen Menwa ini diharapkan dapat kembali meningkatkan wawasan kebangsaan, khususnya terhadap generasi muda.

“Dulu saya juga bagian dari Menwa dan menggunakan baret tapi kemudian saya masuk AKABRI,” kata Laksamana TNI (purn) Tedjo Edhy Purdijatno sembari tersenyum.

Sedangkan Panglima TNI Jenderal Moeldoko menegaskan dukungannya kepada pemerintah terkait rencana pelaksanaan eksekusi mati terpidana kasus narkoba. Pihaknya mengaku sudah menyiapkan pengamanan di kawasan terluar Indonesia guna mengantisipasi reaksi dari pihak luar atas kecaman pelaksanaan eksekusi mati.

Soal ancaman, pemerintahan Australia yang mencoba melakukan intervensi agar eksekusi mati dua warga negaranya, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran atau dikenal dengan sebutan kelompok 'Bali Nine', ditunda, Moeldoko meminta pemerintah Indonesia tidak gentar. 

"Segera eksekusi, jangan ragu-ragu. TNI sudah memberikan pernyataan dan mendukung itu. Kami siap mengamankan, termasuk kawasan terluar untuk mengantisipasi ancaman keamanan dari luar,” tegas Jenderal Moeldoko usai mengisi acara Seminar dan Dialog Pemantapan Wawasan Kebangsaan VIII dan Rapimnas Resimen Mahasiswa (Menwa) di Gedung Srijaya Surabaya. 

Moeldoko menyebut, narkoba sudah menjadi bahaya laten. Peredarannya masuk melalui kebudayaan, berjalan masif dan berkembang sangat cepat. 

Menurutnya, narkoba merupakan bagian dari perang kebudayaan, satu di antara 10 tren perang asimetris (nonmiliter) yang berlaku saat ini. 

"Setiap hari ada 50 orang meninggal dunia karena narkoba. Ini sangat membahayakan,” tegasnya.

Ditambahkan, penguatan kebangsaan salah satunya adalah memerangi narkoba. Dan, TNI selalu ikut berperan memerangi narkoba. Di antaranya dengan membangun hubungan baik antarmiliter, terutama antarnegara di ASEAN.

"Agar peredaran narkoba dari luar bisa dicegah dan tidak masuk ke Indonesia. Saya juga sudah berbicara itu dengan panglima militer Malaysia terkait masalah ini,” ucapnya.

Untuk diketahui, awal tahun ini pemerintah Indonesia kembali menjadwalkan eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba. Eksekusi gelombang pertama telah dilaksanakan sebulan lalu. 

Dan, eksekusi gelombang kedua akan dilakukan dalam waktu dekat. Reaksinya, sejumlah negara yang warganya akan dieksekusi langsung menarik duta besarnya, usai pelaksanaan hukuman mati tersebut.

Di eksekusi gelombang kedua akan datang, yakni terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, warga negara Australia, membuat protes pemerintah Australia. Bahkan, PM Australia Tony Abbott menggertak Indonesia dengan pernyataan akan mencari cara untuk melakukan tindakan tidak balik terhadap Indonesia, sebagai ungkapan ketidaksenangan atas eksekusi dua warga negaranya.

Selain Duo Bali Nine, warga negara asing lainnya adalah Raheem Agbaje Salami, terpidana mati kasus narkotika asal Cordova, Spanyol.

Raheem sebelumnya ditangkap di Bandara Internasional Juanda Surabaya, tahun 1999. Dia kedapatan menyelundupkan 5 kilogram heroin ke Indonesia, melalui Surabaya.

Ikut hadir di acara itu, Ketua Umum Ikatan Alumni Menwa, MS Ka'ban, dan Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Anas Yusuf. (di)

0 komentar:

Posting Komentar